(Opini) Apa Saja yang Membuat Harga Smartphone Menjadi Mahal?

Mungkin pembaca pernah bertanya-tanya di benak kalian, kenapa sih harga smartphone A begitu mahal? Atau, kenapa smartphone B dengan spesifikasi hardware yang mirip, bahkan terkadang melampaui smartphone A bisa dipatok dengan harga yang lebih rendah? Untuk pasar Indonesia yang masyarakatnya cenderung sensitif terhadap harga, strategi menjual produk dengan harga yang lebih murah bisa menjadi salah satu faktor penentu untuk mendongkrak penjualan.

Gambar dari gizbot.com.

Sebenarnya, ada beberapa faktor mengapa sebuah smartphone "harus" dijual lebih mahal dibandingkan dengan produk dari merk lainnya. Kira-kira apa saja ya faktor-faktor penyebabnya? Mari simak di bawah ini.


  • Biaya riset yang lebih tinggi
Pertama-tama, mari kita kembali ke akar permasalahan tersebut. Sebelum sebuah smartphone dapat diproduksi dan dijual ke pasar, tentunya produsen akan melakukan riset terlebih dahulu. Riset tersebut meliput segala aspek dari produk yang akan mereka buat, mulai dari penggunaan hardware, software, hingga mencakup kebutuhan pasar. Jika Anda pernah menemukan, ada beberapa produsen smartphone yang sering melakukan survei, baik secara offline maupun online. Survei tersebut dilakukan agar mereka dapat meluncurkan sebuah smartphone yang memang sedang diidam-idamkan oleh pasar pada saat itu sehingga mereka tidak salah merilis produk.

  • Biaya produksi yang lebih tinggi
Salah satu yang menyebabkan harga sebuah smartphone menjadi lebih mahal adalah ongkos biaya produksi. Biaya tersebut mencakup harga komponen produk seperti layar, prosesor, memory, dan komponen lainnya, hingga upah dari pekerja yang merakit produknya. Sepengetahuan penulis, saat ini mayoritas komponen elektronik termasuk komponen smartphone diproduksi di Tiongkok. Maka tidak aneh jika banyak produsen memiliki pusat produksi di negara tirai bambu tersebut. Selain untuk memotong biaya produksi karena tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk logistik komponen, upah pekerja yang cukup murah di Tiongkok juga dapat mengambil andil dalam menekan biaya produksi.

Maka dari itu, jika sebuah produsen membuka pabrik produksi di negara lain, maka tidak heran jika harga produk mereka yang dibuat di pabrik negara tersebut terkadang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diproduksi di Tiongkok.

  • Biaya marketing yang lebih tinggi
Hal lainnya yang dapat membuat harga smartphone menjadi mahal adalah biaya marketing. Sudah menjadi kewajiban sebuah perusahaan untuk memasarkan produknya melalui beragam cara. Bisa melalui iklan, baik iklan cetak, televisi, maupun online. Selain iklan, penggunaan jasa influencer seperti gadget reviewer maupun buzzer secara umum juga diyakini dapat mempengaruhi masyarakat untuk membeli produk yang mereka pasarkan. Maka dari itu penggunaan influencer sebagai key opinion leader menjadi salah satu cara yang ditempuh oleh banyak produsen smartphone masa kini. Semakin banyak influencer yang mereka gunakan, semakin banyak pula biaya marketing yang mereka harus keluarkan.

  • Biaya komisi untuk penjual
Salah satu ujung tombak dari kanal penjualan sebuah smartphone adalah penjual itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, banyak penjual smartphone tidak hanya menjual satu merk. Apalagi dewasa ini ada banyak sekali merk smartphone yang dapat kita jumpai di pasar, baik merk lokal maupun internasional. Maka dari itu, produsen harus memutar otak mencari cara agar para penjual ini dapat lebih gigih untuk memasarkan produk mereka. Salah satu cara yang ditempuh oleh beberapa produsen adalah menaikkan insentif untuk penjual. Insentif tersebut dapat berupa komisi, stok produk, hingga pengadaan material promosi. Bahkan, ada produsen yang juga menyediakan sales promotor sendiri sehingga penjual tidak perlu pusing mencari pegawai lagi untuk memasarkan produk dari merk yang bersangkutan. Semakin tinggi insentif yang dapat diterima oleh penjual, maka semakin tinggi pula harga jual dari smartphone tersebut.

  • Biaya penyediaan aftersales service
Hal terakhir ini biasanya kurang diperhatikan oleh para calon pembeli. Padahal menurut penulis, layanan aftersales adalah salah satu faktor penting di mana sebuah merk dapat mempertanggung jawabkan produk yang mereka jual. Faktor inilah yang membuat sebuah merk asal Korea Selatan berwarna biru masih merajai pasar Indonesia hingga saat ini. Perlu diketahui, layanan service center dari merk ini bisa dibilang jauh lebih banyak dibandingkan dengan rivalnya. Tidak hanya kuantitasnya, namun juga kualitasnya. Jarang sekali penulis menemukan konsumen yang kecewa terhadap pelayanan dari aftersales merk ini. Hampir tiap orang yang pernah berurusan dengan service center "si biru" ini mengatakan puas dengan pelayanan mereka. Sehingga penulis berkesimpulan, harga mahal yang harus dibayar oleh pembeli saat ingin membeli produk mereka, terbayarkan ketika produk mereka mengalami gangguan ataupun kerusakaan pada saat pemakaian. Sebab, tidak ada yang tahu apa yang bisa terjadi oleh produk elektronik buatan manusia.

Itulah beberapa hal yang menurut penulis dapat membuat harga smartphone menjadi lebih mahal. Jika pembaca memiliki pendapat lain mengenai pembahasan kali ini, bisa dicurahkan di kolom komentar di bawah ya!

Comments