Opini: Inilah Alasan Tukang Ojek Konvensional Enggan Bergabung Dengan Go Jek

Transportasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, manusia mengandalkan berbagai alat transportasi yang tersedia. Saat ini di Jakarta terdapat banyak alat transportasi yang dapat digunakan. Mulai dari transportasi umum seperti ojek, bajaj, bemo, angkot, mini bus, bus kota, taksi, hingga transportasi pribadi seperti sepeda, sepeda motor, ataupun mobil pribadi. Semuanya dapat dimanfaatkan untuk pergi dari suatu tempat ke tempat lainnya. Dari rumah ke sekolah, rumah ke kantor, ataupun rumah ke tempat hiburan seperti mal dan bioskop.

go jek

Ojek adalah salah satu transportasi umum yang sudah cukup lama populer di masyarakat. Dari sejak penulis duduk di bangku SD, ojek sudah menjadi transportasi andalan penulis untuk transportasi dari rumah ke sekolah, serta kembali lagi ke rumah. Selain harganya yang relatif murah, waktu tempuh yang lebih singkat dibanding angkot maupun transportasi umum lainnya menjadi alasan mengapa penulis menggunakan ojek sebagai transportasi untuk pergi ke sekolah. Hingga kini penulis sudah menjadi karyawan, terkadang penulis mengandalkan ojek sebagai transportasi umum utama ketika penulis sedang bepergian sendiri tidak menggunakan kendaraan pribadi.

Baru-baru ini dunia maya dihebohkan dengan sebuah kasus yang berhubungan dengan ojek. Beberapa orang membagikannya melalui media sosial mereka soal adanya intimidasi yang dilakukan oleh tukang ojek konvensional kepada pengemudi Go Jek. Ada dua cerita yang penulis baca. Cerita yang pertama, bagaimana ketika orang tersebut memesan Go Jek namun dua pengemudi Go Jek yang ia pesan mendapatkan ancaman dari tukang ojek yang berada di wilayah sekitar kantornya. Cerita kedua, ketika seorang mahasiswa yang ingin memanfaatkan promo Ramadhan dari Go Jek untuk menuju destinasinya ke sebuah mal yang cukup jauh dari kampusnya. Mahasiswa tersebut mengaku telah menyaksikan pengemudi Go Jek yang Ia pesan mendapatkan intimidasi berupa makian serta ancaman dari tukang ojek yang berada di lingkungan kampus tersebut.

Penulis sendiri juga sudah menggunakan jasa layanan Go Jek. Belum lama ini mobil pribadi penulis mengalami kerusakan sehingga dalam waktu sekitar dua minggu penulis diharuskan menggunakan alternatif transportasi umum. Awal ketika penulis bekerja, penulis masih dapat memanfaatkan angkot sebagai sarana angkutan umum menuju kantor. Namun kini kondisi jalanan sudah berubah. Jika dahulu penulis hanya menempuh perjalanan selama 30 menit menggunakan angkot, sekarang bisa hampir 60 menit. Belum lagi kondisi tersebut diperparah dengan ketersediaan angkot yang tidak pasti (kadang 5 menit sekali lewat, kadang 15 menit sekali baru lewat) dan aksi ngetem yang kadang memakan waktu yang tidak sedikit. Dengan menggunakan Go Jek, penulis hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menuju kantor dari rumah.

Membaca satu artikel berita di Kompas.com mengenai alasan tukang ojek pangkalan ogah gabung ke Go Jek, penulis menjadi mikir. Apa sih sebenarnya kendala tukang ojek konvensional tidak mau atau belum mau bergabung ke dalam Go Jek? Di dalam artikel tersebut, ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya:

  • Potongan biaya
Salah satu tukang ojek mengakui bahwa tarif yang digunakan oleh Go Jek dibagi dua, yakni 80% untuk pengemudi dan 20% untuk perusahaan. Sang tukang ojek sepertinya merasa dirugikan dengan hal tersebut. Padahal jika dilihat lebih dalam, Go Jek membantu para pengemudinya untuk menemukan penumpang. Dengan menggunakan sistem yang sudah dibuat, pengemudi Go Jek tinggal duduk manis menunggu order yang masuk. Untuk menggunakan layanan Go Jek, pengguna diharuskan mengunduh dan memasang aplikasi Go Jek di smartphone-nya. Tentunya hal tersebut bukan hal yang sulit bagi para pengguna smartphone

Sekarang coba kita berpikir, berapa jumlah orang yang menggunakan smartphone di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya? Penulis yakin lebih dari puluhan ribu, bahkan hingga ratusan ribu orang. Zaman sekarang jangankan pegawai kantoran, buruh kasar hingga anak sekolahan saja sudah pakai smartphone. Tentunya ratusan ribu pengguna smartphone tersebut dapat menjadi calon pelanggan potensial bagi para pengemudi Go Jek. Apalagi layanan Go Jek tidak hanya layanan transportasi semata, ada juga layanan pengantaran barang dan juga makanan. Tentunya order yang diterima oleh pengemudi akan lebih banyak lagi. Potongan biaya 20% yang dikenakan tentunya tidak akan terasa apabila seorang pengemudi bisa mendapatkan banyak order.

  • Cicilan smartphone
Dalam operasinya, pengemudi Go Jek wajib menggunakan smartphone untuk dapat menerima order dari calon pengguna. Nah untuk mendapatkan smartphone tersebut, pengemudi harus mencicilnya. Uang cicilan diambil dari pendapatan pengemudi. Sebenarnya hal ini juga cukup lumrah di kalangan pegawai kantoran. Di kantor penulis, pegawai bisa mengambil cicilan untuk membeli laptop pribadi yang dapat digunakan untuk menunjang pekerjaan. Cicilan tersebut dipotong dari gaji bulanan yang diterima oleh pegawai. Jika saja pengemudi Go Jek lebih rajin menerima order, tentunya cicilan tersebut tidak akan terasa memberatkan.

  • Go Jek Credit
Untuk metode pembayaran, pengguna Go Jek dapat memilih antara dua metode pembayaran. Metode pertama adalah menggunakan uang tunai yang langsung dibayarkan kepada pengemudi, sedangkan metode kedua adalah menggunakan Go Jek Credit. Jika menggunakan metode ini, pengguna dapat melakukan top up saldo ke credit mereka yang akan berkurang secara langsung jika menggunakan layanan Go Jek. Pengemudi Go Jek diharuskan pergi ke kantor untuk mengambil uang hasil potongan saldo tersebut. Nah, tukang ojek konvensional menganggap cara ini cukup menyulitkan. Mereka menganggap uang yang didapatkan secara langsung dari pelanggan lebih bernilai dibandingkan "uang bayangan" yang ditampung terlebih dahulu oleh perusahaan. Padahal, metode tersebut dapat membantu para pengemudi untuk mengurangi "pengeluaran tidak terduga" selama mereka mangkal di pangkalan (beli rokok, jajan, dsb). Di sisi lain, untuk tidak merepotkan pengemudi Go Jek bolak-balik ke kantor, ke depannya mungkin Go Jek dapat memberlakukan sistem transfer rekening saja. Sehingga uang yang "nyangkut" di kantor tersebut bisa langsung diterima oleh pegemudi.


  • Ketetapan tarif
Satu hal terakhir yang mengapa tukang ojek konvensional enggan bergabung dengan Go Jek adalah ketetapan tarif yang diberlakukan. Sepengetahuan penulis, Go Jek menetapkan tarif sebesar Rp 4,000 per kilometer. Pada jam-jam tertentu seperti rush hour pukul 15.00 - 19.00, Go Jek menerapkan minimal order Rp 35,000. Tarif tersebut dirasa memberatkan para tukang ojek konvensional, terutama mereka yang mangkal di daerah elit ataupun bisnis seperti Sudirman, Thamrin, dan sekitarnya. Sudah menjadi rahasia umum, ojek di daerah tersebut suka "mengetok" tarif seenak jidat. 



Tarif yang ditetapkan oleh Go Jek sebenarnya sudah cukup fair, baik untuk pengemudi maupun untuk konsumen. Beberapa pengemudi Go Jek yang penulis pernah tumpangi sudah membuktikan. Dalam satu bulan, mereka bisa meraup Rp 2,000,000 hingga Rp 3,000,000. Hasil tersebut lebih besar dibandingkan dengan hasil mereka mangkal di pangkalan ojek. Bahkan bisa lebih jika mereka mendapatkan bonus komisi. Sekedar informasi, pengemudi Go Jek bisa mendapatkan bonus komisi jika mereka mencapai target sekian order yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.

Itulah beberapa hal yang menjadi alasan tukang ojek konvensional enggan bergabung dengan Go Jek. Alasan-alasan tersebut sebenarnya bisa terjawab dengan sebuah solusi jika edukasi sistem Go Jek kepada para tukang ojek konvensional lebih maksimal. Penulis belum mengetahui, langkah-langkah apa saja yang sudah digunakan oleh Go Jek dalam mensosialisasikan produk mereka kepada para tukang ojek konvensional. Namun sepertinya, usaha mereka perlu lebih ditingkatkan lagi. Untuk sisi tukang ojeknya sendiri, ada baiknya mereka mengikuti perkembangan zaman. Karena jika tidak, lama-lama mereka sendiri yang akan kesulitan dan kalah untuk bersaing.


Gambar diambil dari kompas.com






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Beli Ponsel Garansi Distributor? Cek Dulu 3 Hal Penting Ini!

LG G4 Anda Kena Bootloop? Ini Dia Solusinya!

Review Google Pixel XL: Masih Oke Buat 2019?