Review Samsung Galaxy S10+ Setelah 9 Bulan: Masih Layak Buat 2020?

Samsung Galaxy S20 series tidak lama lagi akan segera meluncur. Namun seperti peluncuran ponsel kelas flagship lainnya, kemungkinan banderol harga dari kasta tertinggi ponsel Galaxy tersebut akan cukup tinggi. Namun munculnya S20 series tentunya akan membuat ponsel generasi sebelumnya, yakni Galaxy S10 series, akan mengalami penurunan harga yang cukup besar yang sangat menarik untuk dilirik.  Lalu bagaimana jika flagship tahun 2019 tersebut menjadi pilihan kita buat digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari?

review samsung galaxy s10+

Kebetulan penulis saat ini menggunakan Samsung Galaxy S10+ sebagai daily driver. Sejak dibeli pada April 2019 lalu, ponsel ini memberikan banyak kesan yang cukup menyenangkan buat penulis. Salah satunya dari sisi desain. Memang sih, banyak orang mengatakan bahwa Galaxy S10+ masih memiliki garis desain yang mirip dengan Galaxy Note 9. Namun menurut penulis hal tersebut bukanlah hal yang buruk, sebab desainnya masih terlihat sangat cantik dan modern. Pada bagian depan bodi ponsel ini hampir seluruhnya ditempati oleh layar. Hanya ada sedikit bezel pada sisi atas dan bawah, serta sisi kanan dan kiri yang membuatnya tampil menawan. Oh ya, layarnya ini dibuat sedikit melengkung pada sisi kanan dan kiri sehingga membuatnya terlihat tanpa batas atau biasa disebut infinity display.

review samsung galaxy s10+

Masih dari sisi depan bodi, tepat di pojok kanan atas layar Galaxy S10+ terdapat dua buah kamera depan dengan model punch hole. Entah mengapa juga banyak orang yang kurang menyukai kamera depan dengan model seperti ini, padahal penulis pribadi sangat suka ini dibandingkan dengan model waterdrop ataupun forehead besar yang lazim kita temukan pada ponsel keluaran 2019 serta iPhone. Pada bezel yang ada di atas layar, terdapat sebuah earpiece yang juga berfungsi sebagai speaker kedua dari ponsel ini. Dengan kehadiran speaker kedua tersebut, maka Galaxy S10+ memiliki konfigurasi stereo untuk speakernya.

Beralih ke sisi belakang bodi, ponsel flagship ini terlihat cukup minimalis. Kita akan hanya menemukan tiga buah kamera yang ditemani oleh sebuah lampu kilat LED serta heart rate sensor di bagian atas. Di tengah, ada logo Samsung dan di bagian bawah ada sedikit keterangan seperti IMEI dan serial number dari unit ponsel ini. Bodi belakang ini dilapisi dengan material kaca yang membuatnya terlihat sangat mewah. Apalagi unit yang penulis miliki adalah varian Prism White, yang memiliki warna dasar putih namun dengan aksen sedikit kebiruan yang membuatnya terlihat lebih cantik.

review samsung galaxy s10+

Buat kalian yang masih senang mendengarkan musik dengan headset kabel, Galaxy S10+ masih menyediakan port 3,5 mm pada sisi bawah lho. Sederet dengan port tersebut, terdapat sebuah port USB 3.1 berjenis Type-C 1.0 yang mendukung pengisian daya cepat USB Power Delivery 2.0. Di sebelahnya terdapat sebuah grille speaker utama yang melengkapi konfigurasi stereo dari speaker yang berada di sisi atas layar. Tombol power terdapat di sisi kanan atas, sedangkan tombol volume dan Bixby terletak di sisi kiri atas ponsel ini. Slot kartu SIM terletak di sisi atas yang jika dikeluarkan akan terlihat dua buah slot, di mana salah satu slot memiliki fungsi ganda sebagai slot untuk microSD. Dengan konfigurasi hybrid slot tersebut, maka kamu harus memilih antara menggunakan dua kartu SIM sekaligus atau satu kartu SIM dengan satu kartu microSD.

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

Kembali ke sisi depan bodi dari ponsel ini, di mana dipenuhi oleh layar berukuran 6,4 inci berjenis Dynamic AMOLED dengan resolusi QHD+ (1.440 x 3.040). Layar tersebut terlihat lebih panjang, karena memiliki rasio 19:9. Pada prakteknya sehari-hari, penulis menggunakan resolusi FHD+ (1.080 x 2.160). Sebab, resolusi yang lebih rendah tersebut membuat konsumsi daya dari ponsel ini menjadi lebih irit. Apalagi secara kasat mata penulis sendiri tidak menemukan perbedaan antara keduanya. Yang pasti, layar yang dimiliki oleh ponsel ini sangat bagus dan nyaman untuk dilihat dalam berbagai kondisi. Apalagi layar ini sudah mendukung HDR10+, di mana warna dari gambar film yang kita tonton akan terlihat lebih hidup. Biasanya penulis menikmati konten HDR dari beberapa film yang tersedia di aplikasi Netflix.

Untuk tingkat kecerahannya sendiri, layar Galaxy S10+ mampu memancarkan cahaya hingga 1.200 nits dalam modus auto brightness menurut keterangan dari Samsung. Sayang penulis tidak memiliki alat ukur untuk membuktikan klaim tersebut, namun pada pemakaian sehari-hari, terutama saat pemakaian luar ruangan di mana layarnya akan terkena sinar matahari langsung, layar ponsel ini masih dapat terlihat secara jelas dan cerah. Layar ini juga sudah dilindungi oleh Gorilla Glass 6, sehingga lebih tahan dari goresan yang tidak kita inginkan. Penulis sendiri tidak menggunakan perlindungan layar apapun selama pemakaian, setelah screen protector bawaan dari pabrik tergores cukup panjang ketika pemakaian di bulan kedua. Hingga saat ini, layar dari unit milik penulis masih berfungsi sangat baik, meskipun memang terlihat ada sedikit goresan halus yang tentunya tidak akan terlihat secara kasat mata ketika dalam pemakaian sehari-hari.

Sisi software biasanya bukan menjadi daya tarik dari sebuah ponsel Samsung, terutama ketika mereka masih menggunakan antarmuka TouchWiz. Namun ternyata, perusahaan asal Korea Selatan ini sudah melakukan "pertobatan" dengan merombaknya menjadi One UI. Antarmuka yang tadinya cukup berantakan dan membuat ponsel menjadi terasa lamban kini sudah berubah menjadi antarmuka yang lebih rapi dan gegas. Bahkan kelancarannya sudah mirip dengan Android vanilla yang biasa ditemukan pada Google Pixel series ataupun perangkat Android One. Namun tentunya, antarmuka yang ringan milik Samsung ini tetap diperkuat oleh segudang fitur yang dapat membantu aktivitas sehari-hari. Misalnya, gesture milik Google dan Samsung yang bisa kita gunakan sesuai dengan preferensi. Atau hal lain, modus gelap atau Dark Mode yang membuat tampilan antarmuka menjadi serba hitam dan gelap. Hal ini tentunya sangat membantu untuk menghemat daya, sebab ponsel ini menggunakan layar berjenis AMOLED yang backlit-nya bisa disesuaikan sesuai dengan warna yang ditampilkan.

review samsung galaxy s10+
Home Screen One UI 2.0.

review samsung galaxy s10+
Notification Bar One UI 2.0.

review samsung galaxy s10+
Quick Panel One UI 2.0.

review samsung galaxy s10+
App Drawer One UI 2.0.

review samsung galaxy s10+
Folder One UI 2.0.

review samsung galaxy s10+
Task Manager One UI 2.0.

Samsung Galaxy S10+ diperkuat oleh chipset Exynos 9820 dengan prosesor delapan inti yang terdiri dari dua inti Mongoose M4 berkecepatan 2,73 GHz, dua inti Cortex-A75 berkecepatan 2,31 GHz, dan empat inti Cortex-A55 berkecepatan 1,95 GHz. Prosesor tersebut dipadukan dengan pengolah grafis Mali-G76 MP12 yang bisa dibilang sangat kencang. Skor benchmark-nya sendiri mungkin saat ini sudah tidak se-fantastis chipset jagoan Qualcomm, yakni Snapdragon 855+. Namun jangan salah, performanya untuk penggunaan sehari-hari penulis berikan dua jempol. Selama sembilan pemakaian, penulis hampir tidak mengalami lag, hang, ataupun restart sendiri seperti yang terkadang terjadi pada sebuah ponsel Android. Membuka aplikasi dan game apapun terasa sangat gegas dan lancar. Apalagi ponsel ini memiliki RAM sebesar 8 GB, sehingga multasking dengan membuka dan berpindah-pindah banyak aplikasi terasa mulus tanpa hambatan.

Bagaimana dengan pengalaman penulis bermain game menggunakan ponsel ini? Semua game yang penulis mainkan berjalan dengan lancar. COD: Mobile, PUBG, Mobile Legends, Asphalt 9: Legends, FIFA 20, dan Black Desert Mobile bisa dijalankan menggunakan pengaturan grafis tertinggi. Apalagi dengan layar Dynamic AMOLED serta dukungan speaker stereo, bermain game akan berasa lebih seru meskipun performa speakernya tidak segarang ponsel gaming seperti ASUS ROG Phone 2. Main game dalam waktu yang lama pun tidak masalah, sebab suhu ponsel ini juga bisa dibilang cukup stabil. Penulis yang biasa bermain satu hingga dua jam secara terus-menerus ini tidak pernah terasa panas hingga overheat. Paling ya hanya sedikit hangat saja, yang bisa dibilang wajar karena CPU dan GPU-nya harus bekerja ekstra untuk menjalankan game dengan grafis memukau.

review samsung galaxy s10+
Hasil pengujian AnTuTu v8.2.2.

review samsung galaxy s10+
Hasil pengujian Geekbench 5.

review samsung galaxy s10+
Hasil pengujian 3DMark dengan modus Sling Shot.

Kamera yang serba bisa adalah salah satu keunggulan utama dari Galaxy S10+. Jujur, ponsel ini adalah salah satu ponsel dengan kamera terbaik yang pernah dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama oleh penulis. Terbaik di sini maksudnya adalah kameranya dapat diandalkan untuk segala kondisi dan skenario. Memang sih saat ini kameranya bukan yang terbaik, namun masih bisa disejajarkan dengan kamera ponsel flagship lainnya lho. Penasaran seperti apa hasil jepretan-nya?

Sekilas info terlebih dahulu mengenai spesifikasi kamera belakangnya ya. Ponsel ini dibekali dengan tiga buah kamera belakang yang terdiri dari: kamera utama (wide) beresolusi 12 megapiksel dengan aperture f/1.5-2.4, kamera sekunder (telephoto) beresolusi 12 megapiksel dengan aperture f/2.4, serta kamera tersier (ultra-wide) beresolusi 16 megapiksel dengan aperture f/2.2. Kamera utamanya memiliki ukuran piksel yang cukup besar, yakni 1.4 mikrometer. Sedangkan untuk kamera sekunder dan tersier memiliki ukuran piksel standar 1 mikrometer. Kamera utamanya juga dilengkapi dengan dual pixel PDAF. Baik kamera utama maupun sekunder keduanya dilengkapi oleh optical image stabilization. Terakhir, sebuah lampu kilat LED dapat ditandemkan oleh ketiga kamera tersebut.

Berikut adalah beberapa hasil jepretan dari kamera belakang Galaxy S10+. Semuanya menggunakan modus otomatis dengan pengaturan auto HDR+. Gambar sudah di-resize dan diunggah secara berurutan: menggunakan lensa wide, telephoto (2x zoom), dan ultra wide.

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

hasil foto kamera belakang samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+

Kamera depan milik Galaxy S10+ juga tidak kalah menarik. Berbekal dua buah kamera yang terdiri dari kamera utama 10 megapiksel dengan aperture f/1.9 serta kamera sekunder 8 megapiksel dengan aperture f/2.2, membuat hasil swafoto menjadi lebih mantap. Kamera utamanya juga dibekali dengan fitur dual pixel PDAF, sedangkan kamera sekundernya memiliki fungsi sebagai depth sensor untuk menghasilkan efek bokeh pada foto.

Berikut adalah beberapa hasil jepretan dari kamera depan Galaxy S10+. Gambar sudah di-resize dan diunggah secara berurutan: normal dan live focus.

review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+



review samsung galaxy s10+

review samsung galaxy s10+


Penulis juga sempat mengambil rekaman video menggunakan kamera belakang dan depan dari ponsel ini. Untuk pengaturannya sendiri, keduanya menggunakan resolusi FHD 1.920 x 1.080 dengan frame rate 60 fps.




Baterai tanam berjenis lithium ion dengan kapasitas 4.100 mAh menjadi penopang hidup Galaxy S10+. Dengan pola pemakaian ala penulis, di mana sehari-hari penulis menggunakannya dengan konfigurasi single SIM, sering membuka media sosial untuk pekerjaan, menonton YouTube, Netflix, serta Prime Video, mendengarkan musik di Spotify ketika dalam perjalanan, dan sesekali bermain game, ponsel ini sanggup bertahan dari lepas charger dengan kondisi 100% pada jam 6 pagi hingga turun ke 30% pada jam 4 sore. Terkadang akan lebih boros ketika intensitas penggunaan untuk bermain game lebih sering. Setelah itu, penulis akan mengisi dayanya dari 30% tersebut ke 100% dengan kisaran waktu 1 jam 15 menit. Bukan waktu pengisian daya yang tercepat memang, mengingat ponsel ini hanya mampu mengisi daya dengan tenaga maksimal 15 watt, bukan 18 watt atau lebih tinggi seperti beberapa ponsel baru saat ini.

Itulah pengalaman penulis menggunakan Galaxy S10+ selama lebih kurang sembilan bulan pemakaian. Menurut kacamata pribadi penulis, ponsel ini masih sangat layak dipinang pada tahun 2020 ini, apalagi saat ini harganya sudah cukup turun dibandingkan pada saat penulis beli di tahun 2019 kemarin. Penulis membeli ponsel ini seharga Rp13.299.000 di ritel resmi Erafone untuk varian RAM 8 GB dan media penyimpanan internal 128 GB. Harga tersebut sudah termasuk potongan harga dari kartu kredit, paket XL Prio Gold selama 12 bulan dan bonus speaker Bluetooth merk BCare. Namun sekarang ponsel ini dengan varian yang sama dengan penulis miliki bisa kamu dapatkan dengan harga pasaran di online marketplace berkisar 9-10 jutaan saja. Bahkan jika kamu berminat membeli bekasnya, ada cukup banyak penjual yang melepasnya di harga 7 jutaan.

hasil foto kamera depan samsung galaxy s10+
Sensor yang ada pada Samsung Galaxy S10+.

Kesimpulannya, jika kamu menginginkan sebuah ponsel kelas flagship yang performa yang kencang, kamera andal untuk segala situasi, serta bodi yang cantik dan build quality berkualitas, Samsung Galaxy S10+ layak untuk kamu beli di awal 2020 ini. Satu-satunya keluhan yang mungkin datang dari penulis hanya di daya tahan baterainya yang biasa saja, serta pengisian daya cepatnya yang tidak cepat-cepat amat. Untuk skornya sendiri, ponsel ini penulis berikan skor dengan rincian sebagai berikut:

Desain
5
Performa
5
Kamera
5
Baterai
4
Harga
4.5
Total
4.7

Spesifikasi teknis dari Samsung Galaxy S10+ dapat kamu lihat pada tabel di bawah ini.

Layar
6,4 inci dengan resolusi 1.440 x 3.040 piksel, rasio aspek 19:9, Dynamic AMOLED capacitive touchscreen dengan HDR10+. Dilapisi oleh Corning Gorilla Glass 6.
Ukuran (Panjang x Lebar x Tebal) dan Bobot
157,6 x 74,1 x 7,8 mm, 175 g.
Prosesor
Exynos 9820 (8 nm) dengan prosesor octa-core.
GPU
Mali-G76 MP12.
RAM
8/12 GB.
Internal Storage
128/512 GB dan 1 TB.
External Storage
MicroSDXC, slot menyatu kartu SIM kedua (hybdrid slot).
Kamera Belakang
Kamera utama: 12 megapiksel dengan lensa wideaperture f/1.5-2.4, dual pixel PDAF, OIS.

Kamera sekunder: 12 megapiksel dengan lensa telephoto, aperture f/2.4, auto focus, OIS, 2x optical zoom.

Kamera tersier: 16 megapiksel dengan lensa ultra wide, aperture f/2.2, Super Steady Video. 

Lampu kilat LED.
Kamera Depan
Kamera utama: 10 megapiksel dengan lensa wideaperture f/1.9, dual pixel PDAF.

Kamera sekunder: 8 megapiksel dengan aperture f/2.2, berfungsi sebagai depth sensor.
Konektivitas
GSM, HSDPA, 4G LTE, WiFi 802.11 a/b/g/n/ac/ax, Bluetooth 5.0 dengan A2DP, LE, aptX, GPS, GLONASS, BDS, GALILEO, USB 3.1 dengan Type-C 1.0.
Baterai
4.100 mAh Li-Ion dengan pengisian daya cepat Power Delivery 2.0.
Sistem Operasi
Android 9.0 dengan antarmuka OneUI 1.0 yang saat ini sudah dimuktahirkan ke Android 10 dengan antarmuka OneUI 2.0.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Beli Ponsel Garansi Distributor? Cek Dulu 3 Hal Penting Ini!

LG G4 Anda Kena Bootloop? Ini Dia Solusinya!

Review Google Pixel XL: Masih Oke Buat 2019?